Siang ini, tak sengaja ku scroll media sosial, kutemukan sebuah artikel dan memutuskan untuk membacanya. "Menikah dengan orang yang salah, dan itu tak masalah?" Di dalamnya, ku temukan makna untuk menguatkan dalam bertahan, yaitu "cinta adalah keterampilan, bukan murni perasaan"
Faktanya sebagian besar orang tidak tahu bagaimana cara mencintai; ada sebuah istilah, 'witeng tresno jalaran soko kulino' yang mengibaratkan bahwa cinta dapat tumbuh karena terbiasa atau dibiasakan. Cinta dapat ditumbuhkan dan kita bisa belajar mencintai.
Tidak selamanya pernikahan mengikuti perasaan dan hati; karena jika iya, maka tak akan ada pernikahan yang bertahan lama. Namun, saat kita bisa mengembangkan keterampilan mencintai, akan ada momen toleransi dan kompromi serta kemampuan menerima.
_______
Seperti halnya aku yang sedang belajar mengembangkan toleransi dan kompromi agar bisa mencintai dengan menerima semua yang ada pada dirimu. Ternyataaaaa ....
Banyak orang yang bertanya tentang dirimu, seperti apa pribadimu, dan bagaimana rupamu. Bukannya aku menyimpan rapat tentangmu; namun aku percaya bahwa belum saatnya orang banyak tahu dan mulai mengeluarkan opininya. Bukan aku tak suka mendengar, tapi bagiku, aku yang lebih tahu hal terbaik.
Setelah pertemuan kita, belasan bulan berlalu tanpa pernah kembali bertatap, tak lagi ada pikiran dan perasaan yang terbesit tentangmu. Pernah sesekali kembali teringat senyum simpul dan suara tawamu. Ku putuskan untuk berdoa; bukan khusus untukmu, tapi untuk pendampingku kelak. Mungkin itu kamu.