......
Masih tak menyangka, bahwa khayalanku tentangmu menjadi nyata. Seperti bermimpi, ketika kembali bisa melihat senyum dan mendengar tawa khasmu. Setiap saat, kapanpun aku rindu cukup ku tekan shortcut whatsapp-mu. Sesibuknya kamu, masih kau sempatkan untuk memberiku kabar. Meski tak selalu menjawab telponku, tapi begitu ku matikan sambungan; kuterima pesan pemberitahuanmu bahwa nanti kau akan kembali menelponku saat pekerjaanmu usai.
Terima kasih, sebab ku tahu waktumu tidak begitu banyak untuk terus berkomunikasi denganku. Bahkan aku menyadari, sekalipun gawaimu sedang kau genggam semua itu selalu berhubungan dengan pekerjaanmu. Periode baru mulai terbuka, terpampang nyata di depan mata. Bagianku untuk melangkah, merenggut kisah yang lama terpisah. Semua tentang perjuangan waktu dalam mempertemukan kita. Lama dan sulit, pasti. Kehadiran orang lain sebelum kita bersama, mengukir kisah lain dalam perjalanan ~ Biar itu menjadi cerita yang disimpan dalam waktu yang terus melaju.
LALU
Aku memilih merebutmu dalam doa, dari eratnya peluk yang sedang kau sapa. Heranku waktu yang kau habiskan bersamanya tak kunjung berujung pada sebuah bahagia. Maka ku memilih maju dalam tanya pada Tuhan, sampai kapan kamu dan dia berjalan dalam senja tanpa mengharapkan sebuah atap bersama?
KEMUDIAN
Aku mengerti bahwa kini aku dapat berucap: Kepada yang pertama, aku berterima kasih, karena denganmu aku belajar untuk memulai. Kepada yang selanjutnya, aku bersyukur karena denganmu, aku bisa belajar menghadapi masalah dan rintangan. Terima kasih sudah menjadi pelajaran berharga selama proses perjalanan. Kepadamu yang datang terakhir, tolong jangan berkecil hati, karena denganmu aku percaya ini yang terbaik, karena seringkali yang Tuhan sediakan tak melulu di letakkan paling depan.